Selasa, 05 Februari 2008

paramadina

PARAMADINA FELLOWSHIP 2008

download form pendaftaran .pdf

DESKRIPSI PROGRAM

Universitas Paramadina bekerjasama dengan para mitra* dalam program Paramadina Fellowship 2008 memberikan beasiswa kepada 100 siswa dan lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat yang memiliki potensi akademis maupun non-akademis untuk mengikuti pendidikan (S-1) di Universitas Paramadina.

Program beasiswa ini berlaku bagi calon mahasiswa yang berniat untuk menempuh program sarjana di seluruh program studi yang tersedia di Universitas Paramadina yaitu Manajemen, Psikologi, Teknik Informatika, Falsafah dan Agama, Hubungan Internasional, Komunikasi, Desain Komunikasi Visual dan Disain Produk

Program Paramadina Fellowship 2008 terdiri dari:

Paramadina Fellowship Kategori I

Paramadina Fellowship Kategori II

KUALIFIKASI

Paramadina Fellowship Kategori I:

Siswa kelas 3 atau lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat, baik dari sekolah swasta maupun negeri, dengan nilai rata-rata NEM atau STTB atau Rapor kelas I, II dan III minimum 7.50
Termasuk 10 siswa atau lulusan terbaik di kelas selama 3 (tiga) semester
Maksimal berumur 22 tahun pada tanggal 1 Januari 2008
Berprestasi baik di bidang akademis atau non-akademis
Memiliki kecerdasan emosional dan jiwa kepemimpinan
Keaktifan dalam kegiatan organisasi intra dan ekstra sekolah maupun kemampuan berbahasa inggris atau bahasa asing lainnya merupakan nilai tambah
Memahami dan menyetujui semua persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam program fellowship ini**
Paramadina Fellowship Kategori II :

Siswa kelas 3 atau lulusan SMA atau sederajat yang bertempat tinggal dan berasal dari sekolah di luar Jabodetabek
Siswa kelas 3 atau lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) atau sederajat, baik dari sekolah swasta maupun negeri, dengan nilai rata-rata NEM atau STTB atau Rapor kelas I, II dan III minimum 7.50
Termasuk 10 siswa atau lulusan terbaik di kelas selama 3 (tiga) semester
Maksimal berumur 22 tahun pada tanggal 1 Januari 2008
Berprestasi baik di bidang akademis atau non-akademis
Memiliki kecerdasan emosional dan jiwa kepemimpinan
Memahami dan menyetujui semua persyaratan dan ketentuan yang berlaku dalam program fellowship ini**
CAKUPAN PENDANAAN FELLOWSHIP :

Paramadina Fellowship Kategori I (Nilai Beasiswa sebesar Rp. 65.000.000)

Biaya studi selama 4 tahun kalander akademik. Penerima Fellowship diharapkan dapat menyelesaikan studi dalam 3.5 tahun.
Tunjangan buku
Kemungkinan mendapatkan pelatihan dan magang selama masa studi di perusahaan-perusahaan donor
Peluang penempatan kerja atau mendapatkan tawaran kerja dari donor ketika selesai studi S1
Paramadina Fellowship Kategori II (Nilai Beasiswa sebesar Rp. 100.000.000)

Biaya studi selama 4 tahun kalander akademik. Penerima Fellowship diharapkan dapat menyelesaikan studi dalam 3.5 tahun.
Tunjangan buku
Biaya hidup (living Allowance) sebesar Rp. 1.000.000 (satu juta rupiah)/bulan
Kemungkinan mendapatkan pelatihan dan magang selama masa studi di perusahaan-perusahaan donor
Peluang penempatan kerja atau mendapatkan tawaran kerja dari donor ketika selasai studi S1


PROSES PENDAFTARAN

Formulir pendaftaran awal program ini dapat diperoleh di Universitas Paramadina tanpa dipungut biaya atau di website kami: http://www.paramadina.ac.id/. Formulir pendaftaran yang sudah diisi diserahkan sebelum batas waktu yang ditentukan dengan disertai :

1. 1 (satu) halaman tulisan yang berjudul “Motivasi dan Cita-Citaku Setelah Menyelesaikan Studi di Paramadina” dan 1 (satu) halaman tulisan yang berjudul ”Pengalaman Berharga Saya.” (Petunjuk dan lembar essay terlampir).

2. 2 (dua) surat rekomendasi yaitu dari Kepala Sekolah dan Guru. (surat rekomendasi terlampir)

3. Fotocopy transkrip nilai (legalisir):

Bagi lulusan SMA: Fotocopy NEM, STTB, Ijazah, Raport Kelas 1, 2 dan 3

Bagi siswa SMA Kelas 3 : Raport Kelas 1, 2 dan 3

4. Fotocopy kartu identitas (KTP atau passport) dan Kartu Keluarga.

5. Fotocopy Sertifikat penghargaan yang pernah diraih



Catatan:

Kami hanya menerima pendaftaran yang diserahkan langsung atau via-pos dan tidak menerima pendaftaran melalui email.



KONTAK DAN INFORMASI

Ibu Maya atau Ibu Erma
Universitas Paramadina
Jl. Gatot Subroto Kav 96-97
Mampang, Jakarta Selatan
Tel. +62 21 791 81188 ext. 888
Fax. +62 21 799 3375
Informasi lebih lanjut, kunjungi http://www.paramadina.ac.id/ atau
Email. fellowship@paramadina.ac.id

Senin, 21 Januari 2008

gunadharma

Sudah dua kali saya mengunjungi candi Borobudur, saat masih kecil dulu dan pertengahan tahun 1996. Dokumentasi foto di Borobudur terakhir tidak saya simpan, padahal ada rekaman kamera tangan juga. Perjalanan wisata tersebut sebenarnya cukup panjang, secara kronologis dari Borobudur, Prambanan, Sekatenan, Batu, Malang, Sidoarjo, Surabaya, menyeberang ke Makasar, ke Tana Toraja, kembali ke Makasar lagi, menyeberang ke Surabaya, sunrise gunung Bromo, hingga ke Bali. Berbekal mobil Kijang ditumpangi tujuh orang, tak termasuk mobilnya ikut diseberangkan ke pulau Sulawesi.

Keberadaan candi Borobudur ditemukan oleh Gubernur Jenderal Sir Thomas Raffles pada tahun 1814. Saat itu Belanda dan Inggris berperang dan sempat wilayah nusantara dipimpin oleh Inggris. Saat Raffles berkunjung ke Semarang, ia mendapat laporan ada bukit yang penuh dengan relief. Bersama dengan H.C. Cornelius, seorang Belanda, disertai 200 orang dimulailah pembersihan situs berbentuk bukit tersebut.


Tahun 1835 dan seterusnya mulailah tampak wujud sebenarnya bagian atas candi, diteruskan bertahun-tahun hingga dianggap selesai pada tahun 1850-an. Dan pada tahun 1873 seorang artis Belanda, F.C. Wilsen, menerbitkan monograf pertama relief-relief candi Borobudur, hingga kemudian Isidore van Kinsbergen memotret candi tersebut. Namun saat itu status dan struktur candi Borobudur masih diyakini tak stabil.

Awal abad ke-20 dilakukan restorasi besar-besaran oleh Theodoor van Erp, yang bertugas di Magelang, sekaligus tergabung ke dalam Borobudur Commission. Erp melakukan metoda yang disebut anastylosis, yaitu suatu metoda untuk merekonstruksi bangunan tua bersejarah dengan perhitungan, simulasi, disassembly dan disusun kembali dengan bantuan batu, plester, semen untuk menahan struktur dan bagian yang telah hilang. Namun upaya ini kurang sukses karena kurangnya dana, sehingga Erp hanya fokus pada restorasi struktur dan drainase. [Foto koleksi van Erp, dari Project Jigsaw, ANU]

Tahun 1973 hingga 1984 UNESCO ikut membantu dalam upaya restorasi dan pendanaan candi ini. Dibongkar lebih lengkap, struktur tanah dan bukit diperkuat, serta kembali batu-batu disusun hingga tampak kemegahannya hingga sekarang. UNESCO pun memasukkannya ke dalam daftar World Heritage Site atau Warisan Dunia UNESCO.


21 Januari 1985 beberapa stupa hancur karena serangan ledakan bom. Beberapa waktu lalu pembangunan di sekeliling candi juga menjadi isu kontroversial. Terakhir, kejadian gempa di Yogyakarta tidak membuat kerusakan struktur candi ini.

Dongeng setempat mengatakan Gunadharma memimpin pembuatan candi ini di jaman Syailendra di akhir abad ke-8. Menurut seorang akademisi Belanda, nama Gunadharma adalah murni bahasa Sansekerta yang berarti dongeng rakyat tersebut bersumber dari fakta sejarah, sebab dongeng rakyat yang semata-mata dongeng hanya menampilkan figur nama lokal/setempat.

According to local legend, this is the body of Borobudur’s legendary architect Gunadharma, who has elected to remain in the area in order to keep watch over his creation. Since Gunadharma is a pure Sanskrit name, the Dutch scholar N.J. Krom thought that this local legend might actually be based on some historical figure. Javanese folk tales typically present figures that bear the names of local, rather than Indian characters.
– [Gunadharma’s Ruler]

Candi Borobudur dibangun sebagai sebuah candi besar, bukan sebuah komplek, yang jika dilihat tegak lurus dari atas berbentuk sebuah mandala besar di atas tanah. Bentuk dasar candi berukuran 123×123 meter, bertingkat 6 berbentuk bujur sangkar dan 3 tingkat ke atasnya berbentuk lingkaran dan ditutup dengan sebuah stupa besar.

Bahan dasar batu diambil dari sungai, dipahat, dibentuk kubus dengan sistem kunci coakan dan sengkedan, tidak ada penggunaan mortar atau bahan pelekat lainnya. Sebagai struktur sebuah bukit –katanya puncak bukit– menjadi tempat penyusunan batu-batu tersebut. Total batu struktur dan termasuk reliefnya –seluas 2.500m2– menghabiskan sekitar 55.000m3.

Gunadharma pun memikirkan sistem drainase, terutama saat musim hujan di mana curah hujan daerah tropis sangat tinggi, tetesan air hujan bisa mengalir deras dari puncak hingga ke bawah. Di tiap tingkat, di setiap sudutnya dibuat 100 lubang air dalam bentuk patung-patung yang unik.

Menurut para ilmuwan pembangunan candi ini memakan waktu 50 tahun. Wajar jika legenda mengatakan Gunadharma sebagai arsiteknya meminta tetap berada di candi tersebut, moksa untuk menjaga kelestarian sebuah karya monumental, baik bagi Gunadharma sendiri, bagi Samaratungga dan putrinya, Pramudawardhani, dan bagi penerus wangsa Syailendra saat itu.

Yang masih menjadi misteri adalah kepastian mengapa wilayah candi Borobudur adalah wilayah yang ditinggalkan. Saat Raffles menemukan candi ini, wilayah tersebut adalah bukan wilayah hunian, sebuah hal yang janggal ketika sebuah tempat peribadatan besar umat Budha tapi tidak ada penduduknya. Bahkan Majapahit atau pun Sunda Galuh tidak mencatat eksistensi candi ini.

Para ilmuwan berkesimpulan Borobudur hilang karena tertimbun ledakan Gunung Merapi di awal abad ke-11, diiringi dengan pengungsian besar-besaran penduduk, menjadi wilayah desertir. Namun pendapat ini pun masih belum bisa dipastikan oleh para ilmuwan dan akademisi.

Legenda Gunadharma pernah diangkat ke dalam sinetron beberapa tahun lalu. Namun saya hanya sempat melihat satu-dua episodenya, mungkin ada faktor rasa tak suka dengan kualitas industri sinetron buatan dalam negeri, tapi sedikit menyesal juga garis besar rangkaian cerita Gunadharma –walau hanya dongeng– tidak saya dapatkan.

Untuk namanya, Gunadharma, kami ucapkan salam.

Sebaris kalimat di atas adalah baris terakhir Hymne Gunadharma, sebuah hymne organisasi himpunan mahasiswa arsitektur di ITB, bernama Ikatan Mahasiswa Arsitektur Gunadharma, yang didirikan 15 November 1950, setahun setelah jurusan Arsitektur ITB resmi berdiri.

boooooooooroooooooooooobudur

KEMEGAHAN ARSITEKTUR BOROBUDUR
Bangunannya terdiri dari sepuluh tingkat. Strukturnya terbuat dari setidaknya 55.000 meter kubik batuan yang sudah dirapikan bentuknya. Disusun satu persatu menjadi sebuah candi yang besar dan megah.

Borobudur adalah satu dari tujuh keajaiban dunia. Bentuknya berundak-undak. Terdiri dari enam tingkat berbentuk bujur sangkar, tiga tingkat berbentuk bundar melingkar dan sebuah stupa utama yang terbesar sebagai puncaknya.

Selain itu, tersebar di semua tingkat-tingkatannya beberapa stupa. Tembok dan dindingnya dihiasi dengan berbagai relief yang menutup seluruh permukaan seluas 2.500 meter persegi. Sepuluh tingkatan yang terpatri dalam bangunan candi Borobudur diyakini memapar filsafat mazhab Mahayana, mewakili gambaran sepuluh tingkatan Bodhisattva yang harus dilalui untuk mencapai kesempurnaan menjadi Buddha.

Secara struktural, bagian kaki Borobudur melambangkan Kamadhatu, yaitu dunia yang masih dikuasai oleh kama atau "nafsu rendah". Bagian ini sebagian besar tertutup oleh tumpukan batu yang diduga dibuat untuk memperkuat konstruksi candi. Pada bagian yang tertutup struktur tambahan ini terdapat 120 panel cerita Kammawibhangga. Sebagian kecil struktur tambahan itu disisihkan sehingga orang masih dapat melihat relief pada bagian ini.

Empat lantai dengan dinding berelief di atasnya oleh para ahli dinamakan Rupadhatu. Lantainya berbentuk persegi. Rupadhatu adalah dunia yang sudah dapat membebaskan diri dari nafsu, tetapi masih terikat oleh rupa dan bentuk. Tingkatan ini melambangkan alam antara yakni, antara alam bawah dan alam atas. Pada bagian Rupadhatu ini, patung-patung Buddha terdapat pada ceruk-ceruk dinding di atas ballustrade atau selasar.

Mulai lantai kelima hingga ketujuh dindingnya tidak berelief. Tingkatan ini dinamakan Arupadhatu (yang berarti tidak berupa atau tidak berwujud). Denah lantai berbentuk lingkaran. Tingkatan ini melambangkan alam atas, di mana manusia sudah bebas dari segala keinginan dan ikatan bentuk dan rupa, namun belum mencapai nirwana.

Patung-patung Buddha ditempatkan di dalam stupa yang ditutup dengan lubang-lubang bentuk persegi empat dalam kurungan. Dari luar, patung-patung itu masih tampak samar-samar. Namun ada sejumlah 72 stupa terbuka yang tersebar dengan masing-masing satu patung Buddha.

Unfinished Buddha
Pada puncak candi Borobudur, yaitu bagian puncak, menggambarkan ketiadaan wujud yang dilambangkan berupa stupa yang terbesar dan tertinggi. Stupa digambarkan polos tanpa lubang-lubang. Di dalam stupa terbesar ini, diduga dulu ada sebuah patung penggambaran Adibuddha. Patung yang diduga berasal dari stupa terbesar itu kini diletakkan dalam sebuah museum arkeologi, beberapa ratus meter dari candi Borobudur. Patung ini dikenal dengan nama Unfinished Buddha.

Nama Unfinished Buddha diberikan karena patung Buddha ini tampak belum selesai dikerjakan. Dugaan ketidaksiapan pembuatan patung ini ditunjukkan dalam beberapa literatur seperti: ikal rambut (salah satu ikonografi Buddha) yang tidak ada, hiasan kain (juga ikonografi Buddha) tidak tampak, salah satu bahu tangan yang lebih besar daripada bahu tangan yang lain. Pernah disebutkan bahwa patung ini ditemukan di bawah sebuah pohon di samping candi Borobudur.

Sebagai catatan tambahan, sebelum restorasi pertama 1907-1911 oleh Theodoor van Erp, di puncak candi didirikan sebuah gubuk sebagai gardu pandang. Ada kemungkinan pada masa itu patung yang belum selesai ini disingkirkan dari atas dan dipindahkan ke bawah candi.

Konstruksi dan desain relief pada Candi Borobudur memang mencerminkan karya agung para seniman di masa pembangunannya. Kemegahan itu menandingi kemegahan Angkor Vat di Kamboja, yang juga menjadi satu dari tujuh keajaiban dunia. Namun bangunan yang diperkirakan sudah berusia 1.200 ribu tahun ini belum diketahui pasti peruntukannya, namun yang pasti adalah satu peninggalan penganut agama Buddha di masa kejayaan Matarama Kuno di tahun 750-an.

Berdiri megah di Magelang, Jawa Tengah. Di sebuah lapangan bertanah datar seluas 2.500 meter persegi. Hanya berjarak 40 km ke arah Baratlaut dari Yogyakarta dan 100 km arah Baratdaya ibukota Jawa Tengah, Semarang.

Candi bertingkat sepuluh ini didirikan oleh para penganut agama Buddha Mahayana. Tidak diketahui persis tahun berapa candi ini mulai dibangun, namun perkiraan ahli sekitar tahun 750-850 M. Maka, raja-raja pada Dinasti Sailendra yang dipercaya sebagai penggagas pembangunan candi Buddha terbesar di dunia itu.

Borobudur tidak memiliki ruang-ruang pemujaan seperti candi-candi lain. Yang ada ialah lorong-lorong panjang yang merupakan jalan sempit. Lorong-lorong dibatasi dinding mengelilingi candi tingkat demi tingkat.

Di lorong-lorong inilah umat Buddha diperkirakan melakukan upacara berjalan kaki mengelilingi candi ke arah kanan. Bentuk bangunan tanpa ruangan dan struktur bertingkat-tingkat ini diduga merupakan perkembangan dari bentuk punden berundak. Yaitu bentuk arsitektur asli dari masa prasejarah Indonesia.

Bila ditinjau dari udara, struktur Borobudur membentuk struktur mandala (formasi melingkar). Sejarawan spesialis Asia Tenggara, JG de Casparis (31 Mei 1916-19 Juni 2002) dalam salah satu disertasinya untuk mendapatkan gelar doktor pada tahun 1950, berpendapat bahwa Borobudur adalah tempat pemujaan.

Berdasarkan prasasti Karangtengah dan Kahulunan, Casparis memperkirakan, pendiri Borobudur adalah raja dari Dinasti Sailendra bernama Samaratungga (perkiraan tahun 824 M). Bangunan raksasa itu baru dapat diselesaikan pada masa putrinya berkuasa yakni Ratu Pramudawardhani. Pembangunan Borobudur diperkirakan memakan waktu lima puluh tahunan.

Namun perkiraan lain, pondasi Borobudur sudah dibangun sekitar tahun 750 M. Ini berdasarkan prakiraan bahwa candi Borobudur pernah dibongkar struktur dasarnya.

Bekas dasar awal itu masih terlihat dan tampak sudah diperlebar. Kemudian rancang bangunnya juga disempurnakan dengan penambahan undakan dan stupa-stupa.

Sampai akhirnya Borobudur selesai seperti tampak sekarang dengan polesan di relief, tangga batu dan lengkungan atas pintu. (berbagai sumber)

Rabu, 02 Januari 2008

prambanan

Merupakan peninggalan Hindu terbesar di kawasan Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta, terletak lebihkuang 17 kilometer di sebelah Timur kota Yogyakarta. Candi Prambanan merupakan kompleks percandian dengan candi induk menghadap ke arah Timur, dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang kulit setinggi 47 meter.

Agama Hindu mengenal Tri-Murti, yang terdiri dari Dewa Brahmana sebagai sang Pencipta, Dewa Wishnu sebagai sang Pemelihara dan Dewa Shiwa sebagai sang Perusak.

Bilik utama dari candi induk kompleks candi Prambanan ditempati oleh Dewa Shiwa sebagai Mahadewa sehingga dapat disimpulkan bahwa candi Prambanan mreupakan candi Shiwa.

Candi Prambanan atau candi Shiwa ini juga sering disebut sebagai candi Roro Jonggrang, berkaitan dengan legenda yang menceritakan tentang seorang dara yang jonggrang atau gadis yang jangkung, putrid Prabu (Raja, yang dalam bahasa Jawa sering disebut Ratu) Boko, yang membangun kerajaannya diatas bukit sebalah Selatan kompleks candi Prambanan.

Bagian tepi candi dibatasi dengan pagar langkan, yang dihiasi dengan relief Ramayana yang dapat dinikmati bilamana kita berperadaksina (berjalan mengelilingi candi dengan pusat candi selalu di sebelah kanan kita) melalui lorong itu. Cerita itu berlanjut pada langkan candi Brahma yang terletak di sebelah kiri (sebelah Selatan) candi induk. Sedang pada pagar langakn candi Wishnu yang terletak di sebelah kanan (sebelah Utara) candi induk, terpahat relief cerita Kresnadipayana yang menggambarkan kisah masa kecil Prabu Kresna sebagai penjelmaan (titisan) Dewa Wishnu dalam membasmi keangkaramurkaan yang hendak melanda dunia.

Bilik candi induk yang menghadap kea rah Utara berisi patung Durga, permaisuri Dewa Shiwa, tetapi umumnya masyarakat menyebutnya sebagai patung Roro Jonggrang, yang menurut legenda, patung batu itu sebelumnya adalah tubuh hidup dari purti cantik itu, yang dikutuk oleh ksatria Bandung Bondowoso, untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu patung dalam waktu satu malam.

Candi Brahma dan candi Wishnu yang kini sudah selesai pemugarannya masing-masing hanya memiliki 1 buah bilik yang ditempati oleh patung dewa-dewa yang bersangkutan.

Dihadapan ketiga candi dari Dewa Trimurti itu terdapat tiga buah candi yang berisi wahana (kendaraan) ketiga dewa tersebut. Ketiga candi itu kini sudah dipugar dan hanya candi yang ditengah (di depan candi Shiwa) yang masih berisi patung seekor lembu yang bernama Nandi, kendaraan Dewa Shiwa. Patung angsa senagai kendaraan Brahma dan patung garuda sebagai kendaraan Wishnu yang diperkirakan dahulu mengisi bilik-bilik candi yang terletak di hadapan candi kedua Dewa itu, kini telah dipugar.

Keenam candi itu merupakan 2 kelompok yang saling berhadapan, terletak pada sebuah halaman berbentuk bujur sangkar, dengan sisi sepanjang 110 meter.

Didalam halaman masih berdiri candi-candi lain, yaitu 2 buah candi pengapit dengan ketinggian 16 meter yang saling berhadapan, yang sebuah berdiri di sebelah Utara dan yang lain di sebelah Selatan, 4 buah candi kelir dan 4 buah candi sudut.

Halaman dalam yang dianggap masyarakat Hindu sebagai halaman paling sacral ini, terletak di tengah halaman tengah yang mempunyai sisi 222 meter, dan pada mulanya berisi candi-candi perwara sebanyak 224 buah berderet-deret mengelilingi hfalaman dalam 3 baris.

Diluar halaman tengah ini masih terdapat halaman luar yang berbentuk segi empat dengan sisi sepanjang 390 meter.

Kompleks candi Prambanan dibangun oleh Raja-raja Wamca (Diansty) Sanjaya pada abad ke-9 dan kini merupakan obyek wisata yang dapat dikunjungi setiap hari antara pukul 06.00-18.00 WIB.
Kompleks candi Prambanan terletak hanya beberapa ratus meter dari jalan raya Yogya-Solo yang ramai dilewati kendaraan umum

Selasa, 01 Januari 2008

http://contents.highcamp.info/index2.php?option=com_content&do_pdf=1&id=177

Mengenal Ornamen-ornamen Goa
(Monday, 21 August 2006) - Contributed by Administrator - Last Updated (Monday, 21 August 2006)
Keindahan sebuah gua dapat Anda saksikan dari berbagai bentuk dekorasi yang ada di dalamnya. Ada selendang, pilar,
air terjun beku, mutiara gua, stalagmit atau stalagtit. Sebenarnya, apa pengertian dari istilah-istilah tersebut?Seperti
diketahui bahwa gua yang ada di bumi ini terbentuk oleh batuan kars (batu gamping) yang terbentuk di dasar laut dalam
kawasan yang luas. Ketebalan batu gamping itu bervariasi hingga mencapai ratusan meter. Proses pembentukan
memerlukan waktu hingga ribuan tahun. Demikian pula dengan proses pemunculannya ke permukaan yang berlangsung
dalam waktu yang sangat lama. Gua dipelajari secara serius sejak ditemukannya speleologi oleh Edward Alfred Martel
pada abad ke 19. Sampai kini, ilmu tersebut masih dipakai untuk mempelajari seluk-beluk gua. Speleolog menyebut
dekorasi gua dengan istilah speleothem.Banyak dekorasi-dekorasi indah yang ada di dalam gua. Beberapa dekorasin
gua yang bisa Anda temui di gua-gua adalah sebagai berikut:Stalagtit. Stalagtit itu tumbuh dari atap sebuah gua menuju
ke bawah yang terbentuk karena adanya rekahan kecil pada tubuh batu gamping yang memungkinkan terjadinya tetesan
air yang mengandung larutan kalsium karbonat. Di saat itu terjadilah presipitasi sehingga terlepaslah karbondioksida dan
terbentuk endapan bening yang disebut mineral kalsit.Stalagmit. Stalagtit akan mengeluarkan tetesan air. Tetesan yang
berlebih dalam kurun waktu ribuan tahun akan terakumulasi ke lantai dan membentuk dekorasi tersendiri. Dekorasi yang
terbentuk dari tetesan stalagtit inilah yang disebut dengan stalagmit.Coloumn atau pilar. Pilar bisa terbentuk bila
stalagmit dan stalgatit bersatu membentuk sebuah dekorasi tersendiri.Flowstone atau batu alir. Flowstone terbentuk dari
milyaran tetesan air yang mengalir dan menyelubungi bongkahan batu atau tanah.Shawl atau drapery. Bentuknya mirip
selendang atau gordyn yang terbentuk dari tetesan air yang mengalir melalui dinding gua. Kadang-kadang selendang itu
tembus cahaya dan berwarna-warni akibat mineral yang terkandung seperti mineral besi.Helectit. Ukuran helectit kecil
dan tidak beraturan. Kadang-kadang bercabang dan melintir ke segala arah. Helectit terbentuk dari tetesan air yang
mengalir melalui alur kecil sebagai akibat gaya kapiler. Pembentukan dekorasi itu menyalahi gaya gravitasi.Cave Pearl
atau mutiara gua. Mutiara gua terbentuk saat kerikil terselimuti oleh mineral kalsit pada lantai sebuah gua. Sayang,
dekorasi yang amat indah itu sulit Anda temui di sebuah gua

proses stalagtit dan stalagmit

JAKARTA - Kebutuhan akan pasokan air yang memadai sangat diperlukan=20
untuk kelangsungan hidup sebuah sistem gua. Tanpa air yang jatuh=20
merembes dari langit-langit, dinding atau lantai gua, proses=20
pembentukan beragam ornamen di dalamnya mungkin tak akan pernah=20
terjadi. Berdasar pada asumsi tersebut, maka sebuah proyek=20
pelestarian untuk tetap bisa mempertahankan keseimbangan air di dalam=20
goa mutlak diperlukan. Selain untuk menjamin ketersediaan air bagi=20
kebutuhan gua selama musim kering.
Salah satu daya tarik gua merupakan bentukan beragam ornamen yang=20
berada di dalamnya. Kalau kita sempat ke gua Jatijajar di Gombong,=20
Jawa Tengah. Kita bisa ternganga melihat megahnya stalagmit dan=20
stalagtit di sana. Itu baru sebagian kecil saja dari keindahan gua=20
yang terlihat.=20
Belum lagi kalau kita sempat juga melihat deretan gua di pedalaman=20
Pacitan. Beribu kolam dengan air jernih berada di dalamnya. Dengan=20
deretan batu bintang, yang berkelap-kelip tiap kita menyorotkan sinar=20
ke arahnya. Membuat kita merasa sedih, bila semua keindahan tersebut=20
hilang.=20
Kalau ditelusuri, ternyata salah satu pemicu lahirnya ornamen=20
tersebut adalah perembesan air ke dalam lapisan batu gamping (karst),=20
yang kemudian muncul pada langit-langit, dinding, serta lantai gua=20
yang kemudian membentuk ornamen gua (speleothem).=20
Ornamen yang seperti tiang tumbuh tersebut, ada karena tetesan air=20
mengandung mineral yang secara terus-menerus jatuh ke lantai gua.=20
Tetesan yang jatuh ke bawah lantai gua tersebut terus mengendapkan=20
material, membangun suatu gundukan yang dinamakan stalagmit.=20
Penumpukan mineral dari tetesan air tersebut akan terus tumbuh dalam=20
bentuk selinder yang semakin tinggi. Hingga mungkin dapat bertemu=20
dengan proses pembentukan stalagtit di atasnya, yang kemudian=20
membentuk coloumn (tiang dalam gua yang terjadi karena bersatunya=20
ornamen stalagmit dan stalagtit).=20
Contoh pembentukan stalagmit di atas hanyalah sebuah bentuk kasus=20
yang menggambarkan betapa pentingnya keberadaan air bagi proses=20
tumbuh kembangnya ornamen dalam gua.=20
Kemudian kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak kawasan=20
karst sekarang, yang beralih fungsi menjadi tempat wisata. Di mana=20
unsur estetika menjadi daya tarik jagoan yang harus dipelihara.=20
Bahkan kalau perlu tetap dijaga kelestariannya, agar tetap menarik=20
minat pengunjung memasukinya.=20
Namun, bagaimana bila kita kemudian dihadapkan pada sebuah daerah=20
wisata khusus seperti ini yang terancam proses pertumbuhan ornamen di=20
dalamnya, karena semakin menyusutnya pasokan air di dalamnya.=20

Terhambat Musim=20
Masalah ini juga yang tampaknya timbul di kawasan wisata Goa Gong di=20
Pacitan. Karena hingga terakhir pengamatan SH di tempat tersebut,=20
timbul asumsi bahwa proses sistem hidrologi di gua tersebut terganggu=20
lantaran berkurangnya pasokan air di dalamnya. Hal tersebut kemudian=20
juga dibenarkan oleh beberapa pihak. Bahkan beberapa waktu ke depan=20
(kemungkinan saat musim hujan akan mulai turun di kawasan tersebut)=20
akan dilakukan reboisasi untuk kawasan perbukitan di sekitar bagian=20
atap gua wisata, untuk menjamin keberadaan air yang masuk ke dalam=20
gua ke depannya.=20
"Proses penanaman pohon kembali (reboisasi -red) di atas situs gua=20
wisata Gong, merupakan salah satu tindakan untuk menjamin=20
ketersediaan air di dalam gua, yang berpengaruh juga pada proses=20
pertumbuhan ornamen," ungkap Hanang Samodra, peneliti ahli geologi=20
khusus kawasan karst, pada SH pekan lalu. Menurutnya hal ini menjadi=20
penting, mengingat beragamnya ornamen yang berada di dalam gua Gong.=20
Yang bisa berada dalam keadaan mati, bila pasokan air yang menetes di=20
antara ornamen tersebut hilang.=20
"Sebenarnya usaha perbaikan tersebut sudah terjadwalkan pada=20
pertengahan Oktober lalu, namun tertunda karena hujan belum turun di=20
kawasan tersebut," urai Hanang. Menurutnya turunnya air hujan=20
menandakan bisa dimulainya proses penanaman bibit jati sebagai pohon=20
reboisasi.=20
Uniknya bibit pohon jati tersebut ternyata didatangkan dari kawasan=20
Semarang. Yang menurut pandangan penulis terasa menghamburkan dana=20
saja, karena menurut pengamatan penulis saat berada di kawasan Bomo,=20
yang terletak tak jauh dari kawasan wisata gua Gong, terdapat banyak=20
sekali pohon jati liar di lahan-lahan penduduk di sana.=20

Partisipasi Masyarakat Rendah=20
"Itulah yang menjadi masalah hingga saat ini, sepertinya keterkaitan=20
antarmasyarakat sekitar untuk mendukung upaya pelestarian ini rendah=20
sekali kadarnya," tambah Hanang menjelaskan. Menurutnya ini terbukti=20
dari hanya penduduk di sekitar kawasan wisata=20
Gong saja yang mau membantu proses reboisasi tersebut. Padahal=20
seharusnya masyarakat Pacitan Selatan secara keseluruhan bisa=20
membantu program ini. "Karena kalau ditelusuri, tingkat pendapat=20
daerah untuk kawasan Gong ini masuk ke kabupaten," tambahnya. Yang=20
berarti pihak kabupaten, dan seluruh bagian di wilayahnya punya=20
kewajiban untuk menjaga dan mendukung potensi yang ada di daerahnya.=20
Ketidaktersediaan bibit secara alami tidak terpenuhi lantaran kurang=20
diajaknya masyarakat sekitar untuk turut serta di dalamnya.=20
Penyediaan bibit dari luar daerah, yang cenderung menghamburkan dana=20
akhirnya ditempuh. Padahal kalau saja masyarakat di sana diajak turut=20
serta dalam usaha pelestarian di kawasannya, bukan tidak mungkin=20
mereka akan dengan sukarela memberikan beberapa buah bibit jati yang=20
berada di lahan-lahan mereka.=20
(str-sulung prasetyo)=20

sejarah boro bujur

Bila bicara peninggalan bersejarah tentu erat kaitannya dengan sejarah bangunan itu sendiri. Borobudur misalnya, merupakan bangunan yang usianya lebih dari 12 abad. Maklum, salah satu bangunan tujuh keajaiban dunia ini didirikan pada abad ke-8 saat dinasti Syailendra dan Sanjaya masih berjaya.

Tapi apa boleh buat, lama kelamaan bangunan itupun tertimbun tanah. Hingga akhirnya membentuk sebuah bukit. Pada tahun 1814, Sir Thomas Stanford Raffles memerintahkan Corbelius untuk membongkar bukit itu. Pasalnya bukit tersebut banyak ditemukan batu-batu berukir.

Pada tahun 1835 akhirnya pembongkaran selesai dilakukan. Selanjutnya untuk menjaga kelestariannya maka pemerintah melakukan pemugaran pertama pada tahun 1907-1911. Dan hasilnya, hingga kini Borobudur menjadi saksi bisu sejarah selama berabad-abad.