JAKARTA - Kebutuhan akan pasokan air yang memadai sangat diperlukan=20
untuk kelangsungan hidup sebuah sistem gua. Tanpa air yang jatuh=20
merembes dari langit-langit, dinding atau lantai gua, proses=20
pembentukan beragam ornamen di dalamnya mungkin tak akan pernah=20
terjadi. Berdasar pada asumsi tersebut, maka sebuah proyek=20
pelestarian untuk tetap bisa mempertahankan keseimbangan air di dalam=20
goa mutlak diperlukan. Selain untuk menjamin ketersediaan air bagi=20
kebutuhan gua selama musim kering.
Salah satu daya tarik gua merupakan bentukan beragam ornamen yang=20
berada di dalamnya. Kalau kita sempat ke gua Jatijajar di Gombong,=20
Jawa Tengah. Kita bisa ternganga melihat megahnya stalagmit dan=20
stalagtit di sana. Itu baru sebagian kecil saja dari keindahan gua=20
yang terlihat.=20
Belum lagi kalau kita sempat juga melihat deretan gua di pedalaman=20
Pacitan. Beribu kolam dengan air jernih berada di dalamnya. Dengan=20
deretan batu bintang, yang berkelap-kelip tiap kita menyorotkan sinar=20
ke arahnya. Membuat kita merasa sedih, bila semua keindahan tersebut=20
hilang.=20
Kalau ditelusuri, ternyata salah satu pemicu lahirnya ornamen=20
tersebut adalah perembesan air ke dalam lapisan batu gamping (karst),=20
yang kemudian muncul pada langit-langit, dinding, serta lantai gua=20
yang kemudian membentuk ornamen gua (speleothem).=20
Ornamen yang seperti tiang tumbuh tersebut, ada karena tetesan air=20
mengandung mineral yang secara terus-menerus jatuh ke lantai gua.=20
Tetesan yang jatuh ke bawah lantai gua tersebut terus mengendapkan=20
material, membangun suatu gundukan yang dinamakan stalagmit.=20
Penumpukan mineral dari tetesan air tersebut akan terus tumbuh dalam=20
bentuk selinder yang semakin tinggi. Hingga mungkin dapat bertemu=20
dengan proses pembentukan stalagtit di atasnya, yang kemudian=20
membentuk coloumn (tiang dalam gua yang terjadi karena bersatunya=20
ornamen stalagmit dan stalagtit).=20
Contoh pembentukan stalagmit di atas hanyalah sebuah bentuk kasus=20
yang menggambarkan betapa pentingnya keberadaan air bagi proses=20
tumbuh kembangnya ornamen dalam gua.=20
Kemudian kita akan dihadapkan pada kenyataan bahwa banyak kawasan=20
karst sekarang, yang beralih fungsi menjadi tempat wisata. Di mana=20
unsur estetika menjadi daya tarik jagoan yang harus dipelihara.=20
Bahkan kalau perlu tetap dijaga kelestariannya, agar tetap menarik=20
minat pengunjung memasukinya.=20
Namun, bagaimana bila kita kemudian dihadapkan pada sebuah daerah=20
wisata khusus seperti ini yang terancam proses pertumbuhan ornamen di=20
dalamnya, karena semakin menyusutnya pasokan air di dalamnya.=20
Terhambat Musim=20
Masalah ini juga yang tampaknya timbul di kawasan wisata Goa Gong di=20
Pacitan. Karena hingga terakhir pengamatan SH di tempat tersebut,=20
timbul asumsi bahwa proses sistem hidrologi di gua tersebut terganggu=20
lantaran berkurangnya pasokan air di dalamnya. Hal tersebut kemudian=20
juga dibenarkan oleh beberapa pihak. Bahkan beberapa waktu ke depan=20
(kemungkinan saat musim hujan akan mulai turun di kawasan tersebut)=20
akan dilakukan reboisasi untuk kawasan perbukitan di sekitar bagian=20
atap gua wisata, untuk menjamin keberadaan air yang masuk ke dalam=20
gua ke depannya.=20
"Proses penanaman pohon kembali (reboisasi -red) di atas situs gua=20
wisata Gong, merupakan salah satu tindakan untuk menjamin=20
ketersediaan air di dalam gua, yang berpengaruh juga pada proses=20
pertumbuhan ornamen," ungkap Hanang Samodra, peneliti ahli geologi=20
khusus kawasan karst, pada SH pekan lalu. Menurutnya hal ini menjadi=20
penting, mengingat beragamnya ornamen yang berada di dalam gua Gong.=20
Yang bisa berada dalam keadaan mati, bila pasokan air yang menetes di=20
antara ornamen tersebut hilang.=20
"Sebenarnya usaha perbaikan tersebut sudah terjadwalkan pada=20
pertengahan Oktober lalu, namun tertunda karena hujan belum turun di=20
kawasan tersebut," urai Hanang. Menurutnya turunnya air hujan=20
menandakan bisa dimulainya proses penanaman bibit jati sebagai pohon=20
reboisasi.=20
Uniknya bibit pohon jati tersebut ternyata didatangkan dari kawasan=20
Semarang. Yang menurut pandangan penulis terasa menghamburkan dana=20
saja, karena menurut pengamatan penulis saat berada di kawasan Bomo,=20
yang terletak tak jauh dari kawasan wisata gua Gong, terdapat banyak=20
sekali pohon jati liar di lahan-lahan penduduk di sana.=20
Partisipasi Masyarakat Rendah=20
"Itulah yang menjadi masalah hingga saat ini, sepertinya keterkaitan=20
antarmasyarakat sekitar untuk mendukung upaya pelestarian ini rendah=20
sekali kadarnya," tambah Hanang menjelaskan. Menurutnya ini terbukti=20
dari hanya penduduk di sekitar kawasan wisata=20
Gong saja yang mau membantu proses reboisasi tersebut. Padahal=20
seharusnya masyarakat Pacitan Selatan secara keseluruhan bisa=20
membantu program ini. "Karena kalau ditelusuri, tingkat pendapat=20
daerah untuk kawasan Gong ini masuk ke kabupaten," tambahnya. Yang=20
berarti pihak kabupaten, dan seluruh bagian di wilayahnya punya=20
kewajiban untuk menjaga dan mendukung potensi yang ada di daerahnya.=20
Ketidaktersediaan bibit secara alami tidak terpenuhi lantaran kurang=20
diajaknya masyarakat sekitar untuk turut serta di dalamnya.=20
Penyediaan bibit dari luar daerah, yang cenderung menghamburkan dana=20
akhirnya ditempuh. Padahal kalau saja masyarakat di sana diajak turut=20
serta dalam usaha pelestarian di kawasannya, bukan tidak mungkin=20
mereka akan dengan sukarela memberikan beberapa buah bibit jati yang=20
berada di lahan-lahan mereka.=20
(str-sulung prasetyo)=20
Selasa, 01 Januari 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar